Mengeksplorasi Kengerian Tanpa Ampun, Namun Mengapa Harus Pistol?

Alan Wake II, sebuah game fantastis yang mengisahkan kisah pembunuhan paranormal, realitas yang berubah, dan kepemilikan setan, telah mencuri perhatian para pemain. Dengan narasi yang kompleks dan dua penyelidik misterius, game ini menunjukkan keahlian Remedy Entertainment dalam menciptakan atmosfer misteri yang menegangkan. Monster, hantu, kultus, Dewa kuno, opera rock, dan pertukaran perspektif yang membingungkan, semuanya terdapat dalam permainan ini, dibungkus dengan model karakter dan set yang sangat indah.

Menelusuri Realitas Pecah

Dalam Alan Wake II, elemen video penuh gerak dan CGI dicampur dengan cara yang tak konyol atau dibuat-buat. Dalam alam realitas yang hancur, gaya visual saling bercampur seperti garis waktu alternatif yang berjuang untuk dominasi, sesuai dengan narasi dan mekanik storytelling yang ditampilkan.

Dua Tokoh Bermain Peran

Ada dua karakter yang dapat dimainkan, Saga Anderson dan Alan Wake, masing-masing memiliki kemampuan untuk menyelidiki misteri. Saga, agen FBI yang teguh, memiliki “Mind Place” tempat dia dapat menghubungkan petunjuk dengan tali merah di dinding besar berpanel kayu, dan dapat juga menganalisis orang-orang yang menarik minatnya. Alan, penulis yang tersesat di antara purgatorium selama 13 tahun, memiliki “Writer’s Room” dengan papan plot yang benar-benar mengubah realitas saat ia menambahkan ide baru. Pemain dapat beralih antara Saga dan Alan dalam permainan, mencoba memecahkan kasus yang sama dari sisi yang berlawanan dari dunia bawah.

Teror Tanpa Senjata

Meskipun sangat menikmati Alan Wake II, ada satu hal yang mengusik saya: keberadaan senjata. Terdapat ketegangan menarik di bawah permukaan permainan ini, diwarnai oleh lorong-lorong gelap, ritual yang mengerikan, dan gelombang kehilangan pribadi yang merayap. Sayangnya, ketegangan naratif yang membangun secara perlahan sering kali terputus oleh pertempuran senjata, menciptakan kecemasan yang tidak sesuai dengan pengalaman horor survival ini.

Cahaya Sebagai Senjata

Dalam dunia bayangan ini, musuh utama adalah “shadow people.” Mereka terpengaruh oleh cahaya, dan Saga serta Alan membawa senter sebagian besar waktu. Menyalakan sinar tinggi mematikan musuh-musuh bayangan, namun untuk membunuh mereka, senjata diperlukan. Konsep ini terasa agak aneh, terutama ketika hantu memiliki senjata api sendiri. Beberapa musuh bahkan terlalu tahan terhadap peluru, menghabiskan delapan hingga dua belas tembakan sebelum roboh, menggantikan rasa takut dengan frustrasi dan perhitungan peluru.

Kesimpulan: Senjata Bukan Jawaban

Dengan cahaya sebagai senjata, Alan Wake II sebenarnya tidak perlu senjata api. Mengaktifkan sinar tinggi sudah menggunakan daya baterai yang berharga, dan Saga serta Alan harus mencari baterai yang tersembunyi, menjaga ketegangan manajemen sumber daya tetap ada. Beberapa adegan memperlihatkan kombinasi senter dan senjata yang efektif, di mana senjata hanya menjadi pelengkap dan cahaya yang sebenarnya bekerja. Penggunaan senjata di sini terasa sebagai interupsi yang tidak diperlukan.

Menyimpulkan dengan Pertanyaan

Remedy menyebut Alan Wake II sebagai “petualangan pertama mereka dalam genre horor survival,” membuat penggunaan senjata semakin membingungkan. Apakah game ini lebih ke arah aksi horor atau survival horor, yang penting adalah bagaimana senjata tersebut melayani elemen horor. Dalam hal ini, pertempuran senjata hanya menghalangi jalannya cerita dan ketegangan. Alan Wake II terasa seperti jatuh ke dalam konsep yang tidak perlu, dengan konsekuensi negatif terhadap narasi dan sensasi horornya. Seolah-olah mengikuti formula yang tidak diperlukan, memaksakan elemen senjata di tengah suasana misteri yang seharusnya lebih tenang dan menegangkan.