Pernahkah kamu membayangkan bisa mengobrol lewat pesan teks dengan orang yang sudah meninggal? Dokumenter Sundance, “Eternal You,” menghadirkan kisah nyata yang mencekam dan menarik seputar perusahaan teknologi yang menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk ‘menghidupkan kembali’ yang sudah tiada. Namun, pertanyaannya, apakah kita sudah siap menghadapi realitas tersebut?

Kembali Berbicara dengan yang Sudah Meninggal

Film ini membuka kisah dengan seorang wanita yang tengah berbincang lewat pesan teks dengan kekasih lamanya yang sudah meninggal. Keluarga bisa mendengarkan suara dari orang yang sudah meninggal. Seorang ibu mendapatkan kesempatan kedua untuk mengucapkan selamat tinggal pada anaknya melalui replika digital. Semua kisah ini nyata dan diambil dari dokumenter Sundance, menciptakan perjalanan yang menakjubkan dan menyeramkan ke dalam dunia perusahaan teknologi yang menggunakan kecerdasan buatan untuk ‘menghidupkan kembali’ yang sudah meninggal.

Kehebohan dalam Dunia ‘Kematian’ AI

Eternal You memperlihatkan dampak mendalam yang sudah dirasakan oleh para pengguna awal industri ‘kehidupan setelah mati’ AI. Seorang wanita, Christi Angel, berkomunikasi dengan simulasi cinta pertamanya yang meninggal melalui layanan AI Project December. Namun, apa yang seharusnya menjadi momen magis berubah menjadi kejutan mengejutkan saat AI memberitahu bahwa dia berada di neraka, bukan surga seperti yang diharapkan Angel.

Dilema Moral di Balik ‘Kematian’ dan AI

Dalam film ini, sosiolog MIT, Sherry Turkle, menyatakan bahwa pemahaman kita saat ini tentang bagaimana AI memengaruhi manusia mirip dengan hubungan kita dengan media sosial lebih dari sepuluh tahun lalu. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang nilai-nilai kemanusiaan dan tujuan yang dilayani oleh AI. Meski diciptakan untuk memenuhi keinginan emosional, pengguna layanan ‘menghidupkan kembali’ AI seringkali dihadapkan pada pertanyaan moral yang mendalam.

Perangkap Keberlanjutan atau Pengganti Kesedihan?

Dokumenter ini juga memperkenalkan Joshua Barbeau, seorang penulis lepas yang menciptakan versi digital mantan tunangannya menggunakan teknologi Project December. Pertanyaan mendasar muncul: apakah berbicara dengan replika yang sudah meninggal benar-benar membantu seseorang untuk mengatasi duka? Ataukah hal ini hanya menjadi kruk emosional yang dibayar mahal?

Batasan Antara Dunia Hidup dan Dunia Mati

Sebuah layanan lain, Hereafter.ai, memungkinkan pengguna merekam cerita untuk menciptakan avatar digital dari diri mereka sendiri. Namun, bagaimana reaksi keluarga ketika mereka diajak berbicara dengan ‘mayat hidup’ ini? Tidak semua orang menyambut hangat gagasan ini, terutama dari generasi yang lebih tua yang merasa teknologi bisa melampaui batas kemanusiaan.

Mengatasi Dilema Moral dalam ‘Kematian’ Digital

YOV, perusahaan AI lainnya, berfokus pada penciptaan avatar pribadi atau “Versonas” untuk komunikasi mulus dengan kerabat yang sudah meninggal. Namun, apakah ‘menghidupkan kembali’ seseorang secara digital, terutama tanpa persetujuan mereka, bersifat etis? Apakah ilusi berbicara dengan yang sudah mati lebih membantu atau merugikan bagi mereka yang ditinggalkan?

Keindahan dan Bahaya di Balik ‘Kematian’ AI

Dokumenter ini memberikan gambaran mencekam tentang industri yang sudah siap memanfaatkan orang-orang yang sedang berduka. Meski penggunaan kecerdasan buatan untuk ‘menghidupkan kembali’ mungkin membantu beberapa orang, tampaknya kita belum siap untuk menerima dunia di mana kebangkitan AI menjadi hal yang umum.