Ketika AI Berujung pada Kesalahan Hukum

Michael Cohen, mantan “penyelesai masalah” Donald Trump, baru-baru ini membuat pengakuan mengejutkan. Dia mengakui telah menggunakan Google Bard untuk mengutip kasus hukum yang ternyata palsu dan tak nyata. Kesalahan ini terjadi karena Cohen tak menyadari bahwa Bard adalah layanan AI generatif yang bisa menghasilkan informasi palsu.

Cohen, yang sebelumnya terlibat dalam kasus pembiayaan kampanye tahun 2018 dan menjalani tiga tahun penjara, mencoba menggunakan AI ini untuk mendukung dokumen hukumnya. Namun, Hakim Jesse M. Furman dari Pengadilan Distrik Federal menghadapi kesulitan saat mencari tiga keputusan yang dikutip oleh pengacara Cohen, David M. Schwartz. Hakim Furman bahkan mempertanyakan Schwartz mengapa ia tidak memeriksa keaslian kasus tersebut sebelum diajukan ke pengadilan.

Teknologi AI: Kemudahan yang Berisiko

Cohen menyalahkan pengacaranya karena telah memasukkan kasus-kasus tersebut ke dalam pengajuan tanpa konfirmasi. Dia juga menyatakan ketidaktahuannya tentang Bard sebagai layanan teks generatif, seperti ChatGPT, yang bisa menghasilkan kutipan dan deskripsi yang tampak nyata namun sebenarnya palsu.

Kesalahan ini bukan hanya menjadi bahan tertawaan, tetapi juga berpotensi membawa dampak besar pada kasus hukum yang krusial dengan implikasi politik. Cohen diharapkan menjadi saksi kunci dalam kasus pidana di Manhattan terhadap Trump yang diduga memalsukan catatan bisnis. Kesalahan penggunaan Bard ini memberikan amunisi baru bagi pengacara Trump untuk mendiskreditkan Cohen.

Trend AI di Dunia Hukum: Sebuah Tantangan Baru

Cohen bukanlah satu-satunya yang terjerat dalam insiden serupa. Steven Schwartz, pengacara yang juga menggunakan ChatGPT, pernah mengutip kasus fiktif dalam sebuah kasus sipil. Bahkan, pengacara rapper Fugees, Pras Michel, dituduh menggunakan program AI untuk menghasilkan argumen penutupannya.

Kejadian ini menyoroti pentingnya pemahaman dan kehati-hatian dalam menggunakan teknologi AI di bidang hukum. Di satu sisi, AI menawarkan efisiensi dan kemudahan, namun di sisi lain, risiko dan tanggung jawab hukum menjadi sebuah tantangan baru yang harus dihadapi.